Alsintan Perontok Padi Menjadi Pilihan Petani Sawah di Madina

Alsintan Perontok Padi Menjadi Pilihan Petani Sawah di MadinaPanyabungan – Sejak hadirnya alat mesin pertanian (alsintan) perontok padi ditengah petani sawah darat di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dirasakan sangat membantu dalam peroses percepatan masa penen. Sebab hanya butuh 2- 3 jam padi yang baru dipotong sudah berpisah dari batangnya.

Demikian disampaikan sekretaris KTNA Madina Dahlan Batubara kepada wartawan, Kamis (18/8) di Panyabungan.

Katanya, peroses masa penen padi hanya butuh waktu sekitar 1 hari ditambah 2 jam keesokan harinya, sesudah hadirnya alat perontok padi tersebut. Sementara pada waktu panan manual butuh waktu 3 hingga 4 hari baru selesai panennya.

“Masa menyabit / memotong batang padi butuh 1 hari, alat prontok 2 jam. Dengan perupahan pun hanya Rp.3.000/ Kaleng dengan berat 10 – 11 kg. Kemudian kita petani tidak capek, epektifitas waktu. Namun jika masih menggunakan tangan dan kaki, sudah capek biaya kita juga keluar” ujar Dahlan yang juga petani sawah itu.

Memang jelasnya, ada teradisi yang hilang setelah datangnya alat mesin prontok padi yakni bergotong royong (marsialap ari – mandailing) dimana petani lainnya ikut membantu masa penen dan begitu juga sebaliknya. “Hanya saja untuk biaya kita tetap keluar semisal biaya makan, penganan dan bagian padi 1 kaleng untuk kawan yang ikut marsialap ari itu” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan petani lain Anni Lubis bahwa dengan kehadiran alat tersebut dirinya tidak perlu lagi mengeluarkan tenaga ekstra untuk masa penen. “Ya kita akui alat mesin penen ini sangat membantu bagi kita peteni sawah, selain tidak menguras tenaga bayarnyapun masih sebatas kewajaran”ucapnya.

Dijelaskannya, dengan luas lahan miliknya 0,6 Ha pekerja yang dibutuhkan untuk memotong padi 6 orang kaum perempuan dengan perupahan buruh harian dengan gaji Rp.50.000/ orang / hari. Dan hanya butuh satu hari sudah terpotong semua tanaman padi dilahan miliknya.

“Kemudian kita tinggal memanggil pemiliki alat prontok untuk memisahkan padi dari batangnya, biaya tentu sesuai dengan hasil panen kita, jika kita peroleh 70 kaleng dikali Rp.3.000 total Rp.2.100.000 ditambah Rp.300.000 biaya memotong padi total Rp.2.500.000. Sementara pemakaian alat tersebut tidak ada satu butir padi yang tinggal, beda jika manual masih ada yang tinggal. Kami sangat terbantulah dengan alat ini” ungkap ibu 3 orang anak ini.

Riang seorang pemilik alat prontok padi mengakui setiap memasuki masa penen padi dia harus mempekerjakan 4 – 5 orang dengan sistim perupahan dibagi 3 yakni 1 bagian untuk mesin 2 bagian dibagi oleh pekerjanya.

“Alhamdulilah bermodalkan satu alat mesin perontok padi 5 orang sudah bisa ikut bekerja, lumayan jika panen padi sedang bagus kawan – kawan bisa menerima upah Rp.100.000 hingga Rp.120.000 per harinya dengan harga standar kepada petani kita bebankan Rp.3.000/ kaleng dengan lama penen bisa satu bulan” ujarnya.

Sumber: startfmmadina.com